Keajaiban Ayaman Bambu di Pekon Tulung Agung: Warisan Leluhur dan Penopang Ekonomi Lokal

74 views

PRINGSEWU | NEWSAnalis.ccm – Di Kabupaten Pringsewu, khususnya di Pekon Tulung Agung, bambu bukan sekadar tanaman, melainkan merupakan bagian esensial dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam komunitas ini, ayaman bambu telah menjadi lebih dari sekadar kerajinan; ia adalah penopang utama ekonomi keluarga.

Di Pekon Tulung Agung, yang terdiri dari enam dusun, lebih dari 80 persen penduduk terlibat dalam ayaman bambu. Bagi mereka, kerajinan ini adalah sumber pendapatan tambahan yang vital. Sebagian besar keterampilan ini diwariskan turun-temurun, tanpa adanya pelatihan formal.

“Di sini, ibu-ibu tidak ada yang menganggur. Semua pasti mengayam bambu,” kata Ibu Siti, salah satu pengrajin lokal. Ibu Supri menambahkan, “Kami membuat berbagai barang seperti irik, tampah, tompo, dan kurungan ayam.”

Sekretaris Pekon Tulung Agung, Beni Sigit, mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk memang terlibat dalam ayaman bambu. “Biasanya, mereka mulai mengayam sekitar pukul 10 pagi atau menjelang sore,” jelas Sigit.

Berbagai produk bambu dibuat di Tulung Agung, termasuk kalo, irik, tampah, rinjing, kurungan merpati, dan kurungan ayam dalam dua bentuk, bulat dan kotak. Sigit sendiri juga mahir dalam mengayam.

Selain pengrajin, ada pula pengepul dan pemasok bahan mentah bambu. Pengepul seperti Pak Solihin, Aswahani, dan Pak Untung Efendi memainkan peran penting dalam distribusi, dengan pasar yang mencakup hingga Palembang.


Solihin, salah satu pengepul, telah berkecimpung dalam industri ini selama lebih dari satu dekade. “Pengiriman kami meliputi Lampung, Jambi, hingga Palembang,” katanya.

Ibu Tuti, pengrajin bambu dari Dusun Solokarto, mengenal kerajinan ini sejak kecil. “Orangtua saya juga pengrajin bambu. Saya mulai membuat tusuk sate sejak masih SD,” ungkap Ibu Tuti.

Kini, Ibu Tuti membuat berbagai produk bambu seperti tompo, kipas bambu, tempat telur asin, dan banyak lagi. “Hampir tiap minggu ada pesanan baru,” kata Ibu Tuti.

Produk hantaran bambu yang dibuatnya dijual dengan harga mulai dari 25 ribu hingga 30 ribu per item, tergantung pada tingkat kesulitan dan ukuran.

Di setiap sudut rumah warga Pekon Tulung Agung, terlihat tumpukan bambu dan limbah serutan bambu. Ini menggambarkan betapa terintegrasinya ayaman bambu dalam kehidupan mereka.

Dulu, ada seorang pengrajin terkemuka, Bapak Sutiyo, yang mendirikan Sanggar Rahayu untuk melatih kerajinan bambu. Warisan dan keterampilan ini terus hidup dan berkembang di Pekon Tulung Agung, menjadikannya pusat kerajinan bambu yang berharga.(*/Roji/ful)

Seedbacklink affiliate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-4028159191961500, DIRECT, f08c47fec0942fa0