Bandar Lampung | Newsanalis.com-(Unila): Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendiikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) menyelenggarakan ujian terbuka sidang promosi doktor pada Senin, 8 Juni 2026, di Aula K FKIP Unila.
Sidang Promosi Doktor dibuka oleh Prof. Dr. Sunyono, M.Si., selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni sebagai perwakilan ketua Tim Penguji, Prof. Hasan Hariri, S.Pd., M.B.A., Ph.D., sebagai Sekretaris Penguji, Prof. Dr. Patuan Raja, M.Si., selaku Promotor, dan Dr. Ari Nurweni, M.A., selaku Co-Promotor.
Turut hadir Dr. Muhammad Nur Wahidin, M.Ag., M.Si., selaku Penguji Internal, Dr. Budi Kadaryanto, M.A., selaku Penguji, serta Prof. Dr. Asep Muhyidin, M.Pd., selaku Penguji Eksternal dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Pada kesempatan tersebut, Fenny Thresia berhasil memaparkan disertasinya yang berjudul “Model Multiculturally Responsive Teaching dalam Pembelajaran Reading”.
Penelitian ini dilatarbelakangi tantangan pendidikan tinggi dalam meningkatkan kemampuan akademik sekaligus kompetensi multikultural mahasiswa.
Pengembangan model Multiculturally Responsive Teaching (MRT) menjadi salah satu upaya untuk mendukung peningkatan kemampuan reading comprehension dan kompetensi multikultural mahasiswa.
“Pembelajaran tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga perlu mengakomodasi keberagaman budaya agar mahasiswa memiliki kompetensi akademik dan multikultural yang seimbang,” ujarnya.
Penelitian bertujuan mengembangkan dan menguji validitas, reliabilitas, serta efektivitas model MRT dalam meningkatkan reading comprehension dan kompetensi multikultural mahasiswa, sehingga dapat menjadi alternatif model pembelajaran reading di perguruan tinggi.
Sebagai upaya mencapai tujuan tersebut, Fenny mengembangkan model MRT yang mengintegrasikan pengalaman budaya mahasiswa dengan perspektif budaya global melalui empat tahapan utama, yakni Relate, Read, Recite, dan Respond (4R).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model MRT memiliki validitas dan reliabilitas yang sangat tinggi serta efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca dan kompetensi multikultural mahasiswa.
Model ini dinilai mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih inklusif dan relevan dengan keberagaman latar belakang mahasiswa.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan reading comprehension memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kompetensi multikultural mahasiswa.
Hasil tersebut menegaskan pembelajaran reading yang terintegrasi dengan konteks budaya tidak hanya meningkatkan kemampuan memahami teks, tetapi juga memperluas pemahaman mahasiswa terhadap keberagaman budaya.
Melalui penerapan model MRT, mahasiswa didorong untuk menghubungkan pengalaman budaya yang dimiliki dengan perspektif budaya yang lebih luas. Pendekatan ini dinilai mampu mendukung pengembangan kemampuan literasi sekaligus membentuk mahasiswa yang lebih adaptif dan responsif terhadap keberagaman dalam kehidupan global.
Prof. Sunyono berharap model MRT dapat menjadi inovasi pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca mahasiswa, tetapi juga memperkuat kompetensi multikultural mereka.
Ia menilai kedua kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan pendidikan dan kehidupan di tengah masyarakat global yang semakin beragam.
Humas Unila
Editor : Maruzi








