Bandar Lampung | Newsanalis.com-(Unila): Universitas Lampung (Unila) menjadi tuan rumah penyelenggaraan perdana Konferensi Pengelola Jurnal BKS PTN Barat Tahun 2026. Perhelatan akademis strategis yang diinisiasi Forum Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (FKLP2M) Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Wilayah Barat (BKS PTN Barat) ini berlangsung mulai 9 hingga 11 Juli 2026.
Mengangkat tema “Penguatan Tata Kelola Jurnal Nasional Menuju Indeksasi Internasional dan Kolaborasi Publikasi BKS PTN Barat”, kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng.
Rektor dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan kepada Unila. Sebagai perguruan tinggi yang menjadi lokasi perdana forum ini, Unila berkomitmen mendukung penuh ruang berbagi informasi bagi pengelolaan 161 jurnal yang bernaung di bawah jaringan BKS PTN Barat.
“Ini merupakan forum yang sangat strategis. Dengan menempatkan Unila sebagai titik awal pertemuan ini, kita berharap seluruh PTN di wilayah Barat dapat saling berbagi praktik terbaik demi meningkatkan daya saing publikasi ilmiah nasional di kancah global,” ujar Prof. Lusmeilia.
Pada kesempatan tersebut, Rektor juga memaparkan capaian tata kelola publikasi ilmiah internal Unila, yang saat ini berada di urutan 10 besar nasional dengan total pengelolaan 161 jurnal. Dari jumlah tersebut, 5 jurnal telah terindeks Scopus dan 65 jurnal terakreditasi Sinta. Unila secara konsisten memberikan apresiasi (reward) berkelanjutan bagi para dosen yang melahirkan publikasi ilmiah bereputasi internasional.
Guna memberikan perspektif global yang komprehensif, sesi utama konferensi yang dipandu Ketua Forum LPPM BKS PTN Barat, Sri Lestari Wahyuningroem, M.A., Ph.D., menghadirkan narasumber internasional utama, Ms. Katie Peace (Vice President of Academic Partners Asia, Taylor & Francis).
Ms. Katie Peace dalam pemaparan berbasis data komparatif makro membedah tren pertumbuhan artikel global di mana Indonesia menunjukkan lonjakan kuantitas yang signifikan dalam satu dekade terakhir.
Namun, ia menekankan tantangan terbesar saat ini bergeser dari masalah kuantitas menuju aspek multidisipliner dan relevansi global. Jurnal-jurnal di wilayah BKS PTN Barat didorong untuk tidak hanya menangkap isu lokal, melainkan mampu mengemasnya ke dalam narasi yang menarik minat pembaca global (global appeal).
Mengulas dokumen teknis yang dibawa oleh Taylor & Francis, Ms. Katie Peace memberikan ulasan mendalam mengenai dua isu krusial yang kerap menggugurkan artikel ilmiah asal Indonesia di tingkat internasional. Pertama, batasan etis penggunaan generative AI. Ms. Katie menegaskan kebijakan terbaru dari penerbit global. AI diposisikan murni sebagai alat bantu kebahasaan (language editing) atau pengolah data awal, bukan sebagai penulis (co-author).
Dokumen panduan menekankan kewajiban bagi penulis untuk melakukan deklarasi transparan (AI disclosure statement) mengenai bagian mana saja dari riset yang melibatkan AI guna menjaga orisinalitas ilmiah. Hal kedua, yakni ancaman sistemik paper mills. Fenomena pabrik artikel (paper mills) menjadi perhatian serius penerbit dunia karena mencederai integritas riset.
Ms. Katie mengulas bagaimana kecerdasan buatan dan jaringan global kini digunakan untuk memantau indikasi manipulasi data, duplikasi gambar, serta kejanggalan pada daftar pustaka (sitasi palsu) yang kerap meloloskan artikel berkualitas rendah. Ia mengingatkan para dewan editor jurnal se-PTN Barat untuk memperketat proses peer-review di tingkat lokal agar jurnal mereka terhindar dari sanksi diskualifikasi atau retraction (penarikan artikel) oleh lembaga indeksasi internasional seperti Scopus.
Selain pembicara internasional, konferensi pada Jumat, 10 Juli 2026 ini rencananya diperkuat oleh arahan kebijakan dari Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek RI, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., mengenai strategi peningkatan kualitas jurnal nasional menuju indeksasi internasional, serta Prof. Dr. Parmin, M.Pd. (Tim Penyusun Panduan Akreditasi Jurnal Nasional 2026) dan Ikhwan Arief, S.T., M.Sc. (Ketua Pusat Pengembangan Jurnal).
Sebagai bentuk kontribusi nyata, Unila membagikan formula sukses dari tim pengelola jurnal internasionalnya yang telah menembus indeksasi global. Materi taktis mengenai langkah-langkah migrasi dari akreditasi nasional menuju reputasi global tersebut dipaparkan oleh Wahyu Hidayat, Ph.D. (Pengelola Jurnal Sylva Lestari – Terindeks Scopus Q2 bidang Saintek) dan Dr. Ahmad Syofyan (Pengelola Jurnal Indonesia Private Law Review – Terindeks Scopus Q3 bidang Soshum) di hadapan para dewan editor dan operator jurnal se-PTN Barat.
Ketua Forum LPPM BKS PTN Barat, Sri Lestari Wahyuningroem, Ph.D., menjelaskan, gagasan pelaksanaan konferensi bersama ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi intensif tingkat Wakil Rektor 1 sejak dua tahun lalu. Selain penguatan pengelolaan jurnal, jaringan ini juga bergerak aktif melalui program Hibah Kolaborasi Forum LPPM yang mendanai delapan riset kolaboratif pada tahun ini.
“Jika bergerak sendiri-sendiri, pengelola jurnal akan menghadapi tantangan yang sangat berat untuk memenuhi standar internasional. Namun, melalui wadah kebersamaan di BKS PTN Barat ini, kita bisa memperkuat kolaborasi reviewer, meningkatkan mutu substansi tulisan, serta mengakselerasi kapasitas SDM institusi menuju rekognisi global,” pungkas Sri Lestari.
Humas Unila








