Bandar Lampung| Newsanalis.com- Tim peneliti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) dan tim akademisi Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia, menjajaki penguatan kerja sama akademik dan riset pada Jumat, 6 November 2026. Pertemuan ini menjadi langkah strategis untuk membangun kolaborasi yang tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi diarahkan pada luaran ilmiah bersama, pengembangan pembelajaran, serta penguatan jejaring akademik kedua perguruan tinggi.
Dari FISIP Unila, tim peneliti diwakili oleh Prof. Dr. Noverman Duadji, M.Si. dan Prof. Dr. Novita Tresiana, M.Si. Sementara itu, tim UiTM Shah Alam terdiri atas Dr. Afifa, Dr. Asiyah Binti Kassim, Dr. Memiyanty Hj Abdul Rohim, dan Dr. Mohd Zaki Bin Mohd Yusoff. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mengidentifikasi titik temu kepakaran, menyelaraskan agenda penelitian, serta merumuskan peluang kegiatan akademik yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Salah satu tema yang menjadi landasan pembicaraan adalah tata kelola kolaboratif dalam transisi energi, melalui studi komparatif kebijakan energi baru terbarukan (EBT) berbasis komunitas di Lampung, Indonesia, dan Selangor, Malaysia. Tema ini relevan karena transisi energi tidak semata-mata berkaitan dengan pilihan teknologi atau pembangunan infrastruktur, melainkan juga menyangkut desain kebijakan, koordinasi antarlembaga, kapasitas aktor, partisipasi masyarakat, dan keadilan dalam distribusi manfaat.
Dalam paparan penelitian, Lampung dan Selangor diposisikan sebagai dua konteks yang menawarkan pengalaman kebijakan berbeda. Lampung merepresentasikan tata kelola pemerintahan yang lebih bercorak unitarias dengan koordinasi lintas tingkat pemerintahan, sedangkan Selangor berada dalam kerangka federal Malaysia dengan dinamika kewenangan antara pemerintah federal dan pemerintah negeri. Perbedaan tersebut membuka ruang analisis untuk memahami bagaimana struktur pemerintahan dan desain kolaborasi memengaruhi perumusan serta pelaksanaan kebijakan transisi energi.
Riset komparatif sebagai ruang belajar kebijakan
Kajian komparatif Lampung–Selangor diarahkan untuk membaca hubungan antara kebijakan, institusi, aktor, dan komunitas dalam pengembangan EBT. Di Lampung, potensi energi terbarukan mencakup energi surya, biomassa, biogas, mikrohidro, dan sumber energi lainnya. Sementara di Selangor, pengembangan energi surya memperoleh perhatian melalui kebijakan dan program seperti Selangor Renewable Energy Action Plan (SREAP) serta skema Net Energy Metering (NEM). Perbedaan fokus dan instrumen tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran timbal balik, tanpa mengasumsikan bahwa satu model kebijakan dapat diterapkan begitu saja pada konteks yang berbeda.
Diskusi juga menempatkan sejumlah tantangan sebagai isu penting penelitian. Di antaranya adalah kesenjangan antara target dan implementasi kebijakan, fragmentasi kewenangan, perbedaan instrumen dan insentif, serta partisipasi dan keadilan energi. Keempat isu itu menunjukkan bahwa keberhasilan transisi energi memerlukan tata kelola yang mampu menghubungkan kebijakan nasional dan daerah, pemerintah dan sektor usaha, perguruan tinggi, serta komunitas sebagai penerima manfaat sekaligus aktor perubahan.
Dua pertanyaan penelitian menjadi pijakan untuk memperdalam kajian. Pertama, bagaimana perbedaan struktur pemerintahan unitarias dan federal serta desain tata kelola kolaboratif memengaruhi efektivitas koordinasi lintas aktor dalam transisi EBT?
Kedua, sejauh mana jejaring kebijakan dan keterlibatan komunitas dapat mengatasi hambatan regulasi, ketimpangan insentif, dan tantangan keberlanjutan EBT berbasis komunitas? Pertanyaan tersebut memungkinkan penelitian bergerak dari pemetaan kebijakan menuju penjelasan mengenai mekanisme kolaborasi dan kondisi yang menentukan keberhasilan implementasi.
Pendekatan komparatif ini juga memiliki nilai edukatif. Perbandingan tidak dimaksudkan untuk menentukan sistem mana yang paling unggul, melainkan untuk mengidentifikasi bagaimana konteks kelembagaan, kapasitas pemerintah, konfigurasi aktor, dan karakter masyarakat membentuk pilihan kebijakan. Dengan demikian, pengalaman Lampung dan Selangor dapat dibaca sebagai sumber pembelajaran bersama dalam merancang transisi energi yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Menyasar luaran ilmiah bereputasi dan buku akademik
Salah satu arah penting kerja sama yang dijajaki adalah penyusunan artikel ilmiah kolaboratif untuk ditargetkan pada jurnal terindeks Scopus. Target ini menuntut lebih dari sekadar penggabungan nama penulis. Kedua tim perlu membangun kerangka konseptual yang kuat, menyepakati desain dan metode penelitian, mengembangkan analisis komparatif berbasis data, serta membagi tanggung jawab penulisan dan proses publikasi secara proporsional.
Selain artikel jurnal, tim juga membicarakan peluang menghasilkan buku akademik yang mengembangkan temuan penelitian menjadi pengetahuan yang lebih utuh dan dapat dimanfaatkan oleh kalangan akademisi, pembuat kebijakan, mahasiswa, serta masyarakat. Buku tersebut berpotensi mengulas tata kelola transisi energi dari perspektif kebijakan publik dan administrasi pemerintahan, termasuk hubungan pusat-daerah, kolaborasi multipihak, partisipasi komunitas, inovasi kebijakan, dan keadilan energi.
Kolaborasi diperluas ke ruang pembelajaran dan pengembangan akademik
Kerja sama yang dijajaki tidak dibatasi pada kegiatan penelitian. Kedua tim juga membahas peluang pengajaran bersama atau *collaborative teaching*. Skema ini dapat dikembangkan melalui kuliah tamu, sesi perkuliahan lintas kampus, diskusi kelas bersama, maupun pembelajaran berbasis studi kasus Indonesia–Malaysia. Mahasiswa diharapkan memperoleh kesempatan untuk memahami persoalan kebijakan dari perspektif lintas negara, sekaligus mengembangkan kemampuan berdialog dan bekerja dalam lingkungan akademik internasional.
Penjajakan lain menyangkut peluang keterlibatan akademisi UiTM sebagai penguji eksternal disertasi. Gagasan ini membuka ruang pertukaran kepakaran dalam proses pendidikan doktoral, memperluas perspektif keilmuan, dan memperkuat standar akademik melalui dialog ilmiah lintas institusi. Pelaksanaannya tentu akan mengikuti kesesuaian bidang keahlian, ketentuan akademik yang berlaku, serta mekanisme resmi pada masing-masing perguruan tinggi.
Ketiga agenda—riset bersama, pengajaran kolaboratif, dan penguatan jejaring pembimbingan serta pengujian akademik—saling melengkapi. Riset menyediakan basis pengetahuan dan bahan ajar; pengajaran memperluas diseminasi hasil penelitian kepada mahasiswa; sedangkan keterlibatan akademisi dalam forum akademik pascasarjana memperkuat pertukaran perspektif dan kualitas pengembangan ilmu. Dengan pola demikian, kerja sama diharapkan tumbuh sebagai ekosistem akademik, bukan kegiatan yang bersifat seremonial atau sesaat.
Dari penjajakan menuju agenda tindak lanjut
Pertemuan pada 6 November 2026 menjadi tahap awal untuk menyelaraskan minat dan merancang langkah kerja bersama. Tindak lanjut yang dapat diprioritaskan meliputi pematangan fokus dan pertanyaan penelitian, pemetaan kebutuhan serta akses data di Lampung dan Selangor, penyusunan rencana kerja dan pembagian peran peneliti, serta penetapan target luaran dan jadwal penulisan. Untuk agenda pengajaran bersama dan penguji eksternal disertasi, diperlukan komunikasi lanjutan antarpengelola program studi dan unit akademik terkait agar rencana dapat disesuaikan dengan kalender serta regulasi masing-masing institusi.
Bagi FISIP Unila, kemitraan ini merupakan peluang untuk memperluas jejaring internasional sekaligus memperkuat kontribusi fakultas dalam pengembangan ilmu sosial, kebijakan publik, dan tata kelola pembangunan berkelanjutan. Bagi UiTM, kolaborasi dengan Unila menghadirkan ruang dialog komparatif dengan pengalaman Indonesia, khususnya dinamika kebijakan energi terbarukan dan pelibatan komunitas di tingkat daerah.
Pada akhirnya, transisi energi membutuhkan pengetahuan yang terbuka terhadap perbedaan konteks dan mampu menjembatani kepentingan banyak pihak. Melalui kerja sama FISIP Unila dan UiTM, pengalaman Lampung dan Selangor diharapkan dapat diolah menjadi karya ilmiah bereputasi, buku akademik yang mencerahkan, serta praktik pembelajaran lintas negara. Kolaborasi ini menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas membaca perubahan, tetapi juga menghadirkan gagasan dan solusi berbasis riset bagi masa depan energi yang lebih adil dan berkelanjutan.(*)








