Massa Buruh Peringati May day dengan Long March keTugu Adipura

43 views

Bandarlampung ,——Newsanalis.Com Ribuan buruh dari berbagai elemen akan memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 2025 dengan long march dari Bambu Kuning Square menuju Tugu Adipura, Bandar Lampung, Kamis (1/5/2025) besok.

Aksi ini digelar oleh Federasi Pergerakan Serikat Buruh Indonesia-Konfederasi Serikat Nasional (FPSBI-KSN) bersama Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), serikat petani, mahasiswa, dan organisasi masyarakat sipil.

Ketua Umum FPSBI-KSN, Yohanes Joko Purwanto, menjelaskan bahwa tema aksi tahun ini adalah “Kapitalisme, Oligarki, Militerisme Musuh Kelas Pekerja”.

“Acara akan dimulai pukul 09.00 WIB dengan long march dari Bambu Kuning Square menuju Tugu Adipura. Kami memilih tema itu karena saat ini kapitalisme, oligarki, dan militerisme adalah musuh utama pekerja,” jelas dia saat dihubungi dari Bandar Lampung, Rabu (30/4/2025) pagi.

Selain aksi unjuk rasa, buruh juga akan menggelar aksi sosial untuk korban banjir bandang di Panjang Utara.

“Kami membantu seadanya, karena kemampuan kami terbatas,” ujar Joko.

Tuntutan Buruh: Upah Layak Nasional dan Perlindungan Pemerintah

Joko menegaskan bahwa peringatan May Day bukan sekadar seremoni, tapi momentum memperjuangkan hak buruh.

“Hari Buruh Internasional ditetapkan untuk mengenang perjuangan buruh yang menuntut jam kerja 8 jam sehari. Kondisi buruh saat ini pun masih menghadapi tantangan serupa,” kata dia.

Ia menyatakan perjuangan buruh saat ini masih menghadapi tantangan serupa seperti masa lalu, bukan hanya soal pekerja itu sendiri, tetapi juga terkait undang-undang, kebijakan, dan sikap politik pemerintah yang belum sepenuhnya berpihak pada buruh.

“Oleh karena itu, kami menuntut beberapa hal, misalnya standar upah layak secara nasional, dan kebijakan pro-buruh,” ujar Joko.

Mereka menuntut standar upah layak secara nasional agar upah di berbagai daerah setara, karena saat ini gaji buruh yang terampil masih sangat bervariasi.

“Pemerintah berani menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk barang seperti gas elpiji, namun belum berani menetapkan HET untuk upah buruh,” sesal dia.

Joko menegaskan aksi May Day ini menjadi kritik terhadap pemerintah yang dinilai lebih memihak oligarki dan pemodal.

“Setiap tahun kami ingatkan pemerintah, tapi tidak ada perubahan. Kalau buruh diam, hak kami terus diabaikan. Kami tidak akan bermanis-manis dengan penguasa yang abai pada buruh,” pungkas dia (Redaksi)

Editor: ArmijiAbusani.

Seedbacklink affiliate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-4028159191961500, DIRECT, f08c47fec0942fa0