Bakal Calon Rektor Unila Budiyono Dorong Kampus Tak Bergantung pada UKT
Bandar Lampung –—–Newsanalis .com Bakal calon Rektor Universitas Lampung (Unila), Budiyono, mendorong kampus mengembangkan sumber pendanaan alternatif agar tidak terus bergantung pada Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Menurut Budiyono, Unila memiliki banyak aset yang dapat dioptimalkan untuk memperkuat pembiayaan kampus, tidak hanya berupa tanah dan gedung.
Aset tersebut, kata dia, mencakup sumber daya manusia (SDM), alumni, hasil riset, hingga berbagai fasilitas yang dimiliki Unila.
“Kita tidak harus mengandalkan UKT, tapi kita harus optimalkan aset kita. Aset tidak hanya tanah dan gedung, tapi SDM dan aset alumni. Tinggal bagaimana orkestrasi ini semua,” kata Budiyono saat diwawancarai, Selasa (22/9/2026).
Budiyono mengatakan, Unila yang telah berusia 61 tahun memiliki modal besar berupa jaringan alumni dan SDM dengan keahlian di berbagai bidang.
Potensi tersebut, menurutnya, perlu dikelola secara terintegrasi agar keberadaan Unila memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Lampung.
Dorong Hasil Riset Jadi Solusi Persoalan Masyarakat
Budiyono juga menyoroti hasil riset yang dihasilkan sivitas akademika Unila.
Menurutnya, penelitian yang dihasilkan kampus jangan hanya berhenti dalam bentuk publikasi atau menjadi konsumsi lingkungan akademik.
Hasil riset tersebut, kata Budiyono, dapat ditawarkan kepada pemerintah daerah maupun masyarakat untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan.
“Unila harus bisa transformasi menjadi lembaga pemecah masalah di masyarakat,” ujarnya.
Ia mencontohkan Unila memiliki tenaga ahli di berbagai bidang, mulai dari hukum, teknik hingga kedokteran.
Selain itu, keberadaan rumah sakit pendidikan juga dinilai sebagai aset yang dapat dikembangkan untuk memperkuat peran Unila sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi kampus.
“Dari situ nanti masyarakat sudah merasakan meningkat hasil riset, bisa jadi sumber pendapatan kita,” katanya.
Perkuat Kerja Sama dengan Pemda dan Alumni
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Budiyono mendorong penguatan kerja sama antara Unila dengan pemerintah daerah, alumni dan dunia industri.
Menurut dia, posisi Unila sangat strategis karena keberadaan kampus tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dan pembangunan di Provinsi Lampung.
“Kita juga kerja sama dengan alumni untuk partisipasi dengan kampus. Terus kita tawarkan hasil riset ke pemda,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi tersebut dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas manfaat keberadaan Unila sekaligus memperkuat kemandirian pembiayaan kampus.
Soroti Ketergantungan pada UKT
Budiyono juga menyinggung persoalan UKT yang selama ini menjadi salah satu sumber pembiayaan pendidikan di Unila.
Ia mengatakan besaran UKT disebut tidak mengalami kenaikan sejak 2017.
Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan kampus terus berjalan seiring perkembangan jumlah mahasiswa dan kebutuhan penyelenggaraan pendidikan.
“Pertanyaannya, ekonomi, inflasi ada perubahan, tidak mungkin menutupi pembiayaan ini,” katanya.
Karena itu, menurut Budiyono, optimalisasi aset serta pengembangan sumber pendapatan lain menjadi penting dilakukan.
Ia berharap ke depan pembiayaan Unila tidak hanya bertumpu pada UKT mahasiswa.
“Sementara sumber dana dari UKT kita bangun infrastruktur. Jadi konsentrasinya ada ke depan bagaimana pendidikan gratis,” ujarnya.
Pemilihan Rektor Harus Jadi Adu Gagasan
Selain berbicara mengenai pendanaan, Budiyono juga menyoroti proses pemilihan Rektor Unila periode mendatang.
Menurutnya, pemilihan rektor harus menjadi ruang bagi para calon untuk menawarkan gagasan dan program terbaik bagi masa depan kampus.
Ia menilai kontestasi pemilihan rektor semestinya tidak menjadi momentum yang justru memecah persatuan sivitas akademika.
“Ajang pemilihan rektor bukan ajang memecah belah, tapi adu ide, gagasan, ajang mempersatukan kampus,” tegasnya.
Budiyono juga menyebut proses pemilihan rektor dapat menjadi pembelajaran demokrasi bagi sivitas akademika.
Menurutnya, Unila sebagai institusi pendidikan memiliki posisi penting dalam memberikan contoh mengenai bagaimana proses demokrasi dijalankan secara sehat.
“Belajar demokrasi itu belajar menang, belajar kalah. Jangan pemilihan rektor yang kita ajarkan orang lain,” pungkasnya (**)
Editor Armiji Abusani Obara








