Dany Amrul Ichdan: Lampung Lari Kencang, Saatnya Nilai Tambah Tumbuh di Daerah

20 views

BANDAR LAMPUNG | Newsnalis.com- Pertumbuhan ekonomi Lampung yang terus menunjukkan tren positif perlu diikuti dengan peningkatan nilai tambah hasil komoditas daerah agar manfaat ekonominya semakin banyak dinikmati masyarakat Lampung.

Hal tersebut disampaikan Wakil Direktur Utama MIND ID, Dr. Dany Amrul Ichdan, dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Luar Biasa Senat Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serbaguna Unila, Rabu, 23 September 2026.

Dany mengatakan, peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung dalam 15 tahun terakhir menunjukkan perkembangan ekonomi yang cukup signifikan. PDRB Lampung meningkat sekitar 3,5 kali, dari sekitar Rp150 triliun pada 2010 menjadi sekitar Rp523 triliun pada 2025.

Sementara itu, berdasarkan data BPS, perekonomian Lampung tumbuh 5,28 persen pada 2025, berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatera.

Namun, menurut Dany, peningkatan angka PDRB tersebut perlu dilihat lebih jauh, terutama dari sisi seberapa besar nilai tambah hasil pertanian dan komoditas unggulan yang dapat diolah serta dipertahankan di daerah.

“Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja,” ujar Dany.

Ia menjelaskan, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah rantai nilai komoditas yang berhenti terlalu awal. Sektor pertanian Lampung memiliki nilai sekitar Rp150 triliun, tetapi berdasarkan paparannya, sekitar Rp20–30 triliun yang masuk ke sektor industri pengolahan.

Karena itu, Dany mendorong agar semakin banyak komoditas Lampung yang diolah sebelum dipasarkan. Dengan penguatan proses pengolahan di daerah, nilai ekonomi yang tercipta diharapkan dapat memberikan dampak lebih besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Menurutnya, Lampung memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan hilirisasi. Kementerian Pertanian mencatat Lampung sebagai sentra ubi kayu terbesar nasional dengan produksi sekitar 7,9 juta ton pada 2024.

Dalam orasinya, Dany juga menyebut nilai ekonomi ubi kayu sekitar Rp10,6 triliun dan pisang sekitar Rp25,3 triliun. Selain itu, ia menyoroti posisi jagung dan kopi serta potensi lada hitam Lampung sebagai komoditas yang memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut.

Besarnya produksi komoditas tersebut, kata Dany, perlu diikuti kemampuan daerah dalam menghasilkan produk olahan dan memperluas akses pasar.

Untuk menggambarkan pendekatan yang diperlukan, Dany memperkenalkan kerangka DAI, yakni distinctive, adaptive, dan inclusive.

Distinctive berarti pembangunan diarahkan pada keunggulan yang berasal dari komoditas dan karakteristik daerah sendiri. Adaptive berarti daerah harus menyiapkan industri, energi, serta infrastruktur yang mampu mendukung proses pengolahan. Sementara inclusive menekankan agar petani dan masyarakat memperoleh manfaat yang lebih besar dari proses peningkatan nilai tambah.

Pada aspek adaptive, Dany mengapresiasi arah pengembangan sejumlah kawasan industri dan energi di Lampung, antara lain Katibung, Kawasan Industri Lampung II (KAIL II), dan Rejosari.

Katibung direncanakan menjadi kawasan energi terintegrasi, termasuk usulan pembangunan kilang dengan kapasitas 300 ribu barel per hari serta pengembangan bioetanol berbahan baku pertanian. Dalam paparannya, peletakan batu pertama kawasan tersebut ditargetkan pada 2027.

Sementara itu, KAIL II dipersiapkan sebagai kawasan pengolahan yang berbasis potensi agro, sedangkan Rejosari menjadi salah satu lokasi yang dijajaki untuk pengembangan industri bioetanol berbahan baku sorgum.

Dany menegaskan bahwa berbagai rencana tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui pelaksanaan di lapangan.

Pada aspek inclusive, ia memberikan contoh pengembangan bed dryer di Pringsewu. Teknologi pengeringan tersebut memungkinkan proses pengeringan gabah yang secara manual dapat memerlukan waktu hingga 15 hari menjadi sekitar 10–12 jam dengan menggunakan mesin.

Menurut Dany, proses pascapanen yang lebih cepat tidak hanya berkaitan dengan efisiensi, tetapi juga memberikan pilihan yang lebih baik kepada petani dalam menentukan waktu penjualan.

Gabah yang telah dikeringkan dan dapat disimpan memungkinkan petani tidak harus langsung menjual hasil panen ketika harga belum menguntungkan. Dengan demikian, teknologi pascapanen menjadi salah satu bagian penting dalam upaya meningkatkan posisi petani dalam rantai nilai.

Dany menilai pekerjaan berikutnya bagi Lampung adalah memastikan kawasan industri yang dikembangkan dapat terhubung dengan pasokan komoditas lokal, sekaligus memperkuat proses pascapanen dan pengolahan di tingkat daerah.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi, termasuk Unila, memiliki ruang strategis untuk mendukung melalui riset pengolahan, peningkatan mutu produk, pengembangan teknologi, serta pengembangan usaha yang mampu menjawab kebutuhan petani dan industri.

Dengan pendekatan tersebut, ukuran kemajuan ekonomi Lampung tidak hanya dilihat dari peningkatan produksi maupun bertambahnya kawasan industri, tetapi juga dari seberapa besar nilai tambah yang tercipta, lapangan kerja yang tersedia, serta peningkatan pendapatan yang diterima masyarakat daerah.

Dany Amrul Ichdan merupakan alumnus S1 Manajemen Ekonomi Universitas Lampung tahun 1998. Ia kemudian meraih gelar magister pada 2000 dan doktor pada 2011 dari Universitas Padjadjaran.

Sebelum bergabung dengan PT Mineral Industri Indonesia (Persero), Dany antara lain pernah memimpin PT Pertamedika–IHC dan PT Pertamedika Sentul. (**)

Seedbacklink affiliate
Editor: Maruzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-4028159191961500, DIRECT, f08c47fec0942fa0