Pertama Dalam Sejarah Korps Baret Merah : Ayah dan Anak Jabat Danjen Kopassus

28 views

Pertama Dalam Sejarah Korps Baret Merah, Ayah dan Anak Jabat Danjen Kopassus.

Jakarta ——NEWSANALIS COM. Komando Pasukan Khusus (Kopassus) adalah satuan elit TNI Angkatan Darat yang telah menorehkan banyak tinta emas di medan operasi sejak berdiri pada 16 April 1952. Dari masa ke masa, Korps Baret Merah ini dikenal karena keberanian dan dedikasinya yang luar biasa dalam menjaga kedaulatan bangsa.

Namun, ada satu kisah yang begitu istimewa dalam sejarah panjang Kopassus untuk pertama kalinya, ayah dan anak sama-sama pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Mereka adalah Kolonel Inf. Sarwo Edhie Wibowo dan Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo.

🟥 Kolonel Inf. Sarwo Edhie Wibowo — Sang Penumpas G30S/PKI

Lahir di Purworejo, 25 Juli 1925, Sarwo Edhie Wibowo adalah sosok legendaris dalam sejarah militer Indonesia. Ia menjabat sebagai Komandan RPKAD (Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat) cikal bakal Kopassus dari tahun 1964 hingga 1967.

Sarwo Edhie dikenal sebagai orang kepercayaan Jenderal Soeharto dalam operasi penumpasan Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Ia turun langsung ke lapangan memimpin pasukannya di Jawa Tengah untuk mempertahankan ideologi Pancasila dari ancaman komunisme.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam biografinya bahkan menyebut Sarwo Edhie sebagai pemimpin yang tangguh di masa-masa paling kritis dalam sejarah bangsa. Untuk mengenang jasanya, nama Sarwo Edhie kini diabadikan sebagai nama gedung di Markas Komando Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur.

🟥 Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo — Pewaris Semangat Sang Ayah

Pramono Edhie lahir di Magelang, 5 Mei 1955. Sejak kecil, ia sudah kagum dengan sosok ayahnya yang gagah dan berwibawa mengenakan seragam baret merah. Cinta dan kebanggaan itu kelak membawanya mengikuti jejak sang ayah di dunia militer.

Setelah lulus SMA pada 1974, Pramono sempat tertunda masuk Akademi Militer karena harus mengikuti ayahnya yang bertugas sebagai Duta Besar di Korea Selatan. Namun, semangatnya tak pernah surut. Ia kemudian kembali ke Indonesia dan berhasil masuk Akmil Magelang, lulus pada tahun 1980, lalu bergabung dengan Kopassus yang kala itu masih bernama Kopassandha.

Berbeda dari kakak-kakaknya yang memilih baret hijau, Pramono memilih baret merah sebagai simbol keberanian dan tekad untuk meneruskan perjuangan ayahnya.

🟩 Karier Emas di Korps Baret Merah

Selama masa pengabdiannya, Pramono Edhie dikenal sebagai prajurit yang tangguh dan loyal. Ia pernah diterjunkan dalam Operasi Seroja di Timor-Timur (Timor Leste) dan berulang kali terlibat dalam misi operasi berisiko tinggi.

Beberapa jabatan penting yang pernah diemban antara lain:

Komandan Batalyon 11 Grup 1 Kopassus, Serang, Banten

Wakil Komandan Grup 1 Kopassus

Asisten Operasi (Asops) Kopassus

Komandan Grup 1 Kopassus setelah sukses dalam misi pendakian Gunung Everest di Nepal

Ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri

Wadanjen Kopassus

Hingga akhirnya menjadi Danjen Kopassus ke-23, mengikuti jejak ayahnya sebagai pemimpin pasukan elite kebanggaan bangsa.

🟨 Warisan Semangat dan Patriotisme

Kisah Sarwo Edhie dan Pramono Edhie Wibowo adalah simbol warisan semangat juang dan patriotisme dalam keluarga militer Indonesia. Dari ayah yang berjasa menumpas pemberontakan, hingga anak yang meneruskan pengabdian di era modern, keduanya membuktikan bahwa jiwa ksatria dan cinta tanah air tak pernah luntur oleh waktu.

Mereka bukan sekadar ayah dan anak, tetapi dua generasi prajurit yang menorehkan sejarah di Korps Baret Merah.(TIM redaksi)

Editor ArmijiAbusani

Seedbacklink affiliate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-4028159191961500, DIRECT, f08c47fec0942fa0