DPW DAN DPD Tidak Mandul,Tapi Takut Memberi Ruang.

53 views

DPW dan DPD Tidak Mandul, Tapi Takut Memberi Ruang
Jakarta –——NEWS ANALIS.COM LAMPUNG. Masalah utama di tingkat DPW dan DPD bukan terletak pada ketidakmampuan berkembang. Persoalannya lebih mendasar: ketakutan kehilangan posisi.

“Selama ruang partisipasi dikunci rapat, regenerasi dibekukan, dan kritik dibaca sebagai ancaman, organisasi hanya akan berputar di tempat.”

Kondisi ini membuat konsolidasi yang terjadi bukan konsolidasi partai, melainkan konsolidasi kekuasaan pribadi. Dampaknya langsung terasa di lapangan. Struktur organisasi menjadi stagnan, program kerja berjalan tanpa greget, dan target besar yang diumbar di forum resmi merosot menjadi slogan kosong.

Kader dan Konstituen Diposisikan Sebagai Objek

Pola yang paling kentara adalah pergeseran posisi kader dan konstituen. Keduanya hanya dijadikan objek mobilisasi, bukan subjek penentu arah.

“Kader dipanggil saat butuh suara, konstituen didekati saat butuh dukungan. Setelah itu ruang diskusi ditutup lagi,”

Akibatnya, kader muda lebih banyak ditempatkan sebagai pajangan. Energi dan gagasan mereka tidak mendapat saluran. Yang terjadi adalah siklus estafet kekuasaan di lingkaran lama, tanpa ada mekanisme penyegaran yang sehat.

Regenerasi Dibekukan, Organisasi Stagnan

Ketika regenerasi dibekukan, konsekuensinya adalah hilangnya daya adaptasi organisasi. Isu-isu baru yang berkembang di masyarakat tidak mampu diterjemahkan menjadi kebijakan dan gerakan politik yang relevan.

Kritik internal yang seharusnya menjadi bahan evaluasi justru dipersepsikan sebagai pembangkangan. Ruang dialog menyempit, dan keputusan sentralistik menjadi satu-satunya jalur.

Dari Tiga Besar ke Risiko Bubar

Jika pola ini terus dipelihara, risiko terbesar bukan hanya stagnasi. Organisasi yang tidak mampu melakukan regenerasi dan membuka ruang akan kehilangan legitimasi di mata kader dan publik.

“Kalau pola ini terus dipelihara, yang tersisa bukan tiga besar tapi tinggal bubar,”

Pernyataan itu terdengar keras, tapi mencerminkan kekecewaan yang nyata. Target politik nasional tidak bisa dicapai hanya dengan instruksi dari atas. Dibutuhkan mesin organisasi yang hidup, yang digerakkan oleh kader yang merasa menjadi bagian dari proses.

Jalan Keluar: Membuka Ruang dan Mengembalikan Subjek

Solusinya sebenarnya sederhana: membuka ruang. DPW dan DPD perlu berani memberi panggung kepada kader muda, mendengar kritik, dan menjadikan konstituen sebagai subjek politik.

“Konsolidasi sejati hanya terjadi ketika kekuasaan tidak lagi dipusatkan pada individu, tapi disalurkan melalui sistem yang meritokratis dan partisipatif.”

Tanpa perubahan itu, slogan besar hanya akan tinggal slogan. Dan organisasi yang besar secara nama bisa runtuh karena kosong secara substansi.

DPW dan DPD Tidak Mandul, Tapi Takut Memberi Ruang: Ketika Kader Hanya Jadi Alat Mobilisasi(***)

EDITOR:ARMIJI ABUSANI.

Seedbacklink affiliate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-4028159191961500, DIRECT, f08c47fec0942fa0