Living Landscapes Indonesia Bahas Peluang Kerja Sama dengan Unila

16 views

Bandar Lampung | Newsanalis.com-(Unila): Living Landscapes Indonesia menjajaki peluang kerja sama strategis dengan Universitas Lampung (Unila) dalam penguatan konservasi lingkungan, riset biodiversitas, dan pengembangan model pembiayaan konservasi berbasis hasil di kawasan Taman Nasional Way Kambas.

Diskusi intensif tersebut berlangsung di ruang kerja Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi (PKSI) Rektorat lantai dua Unila, Kamis, 21 Mei 2026. Pertemuan tersebut dihadiri Direktur Living Landscapes Indonesia Madina Rain Firdaus bersama sejumlah ahli biologi, termasuk Prof. Beth Kaplin.

Rombongan diterima langsung Wakil Rektor Bidang PKSI Unila Prof. Ayi Ahadiat, didampingi Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Purnomo, Ketua Jurusan Kehutanan Dr. Bainah Sari Dewi, serta Dosen Kehutanan Dr. Hari Kaskoyo.

Madina Rain Firdaus dalam pemaparannya menjelaskan visi jangka panjang pihaknya bersama Unila, yakni menjadikan Taman Nasional Way Kambas sebagai lokasi awal pengembangan model konservasi berbasis karbon dan restorasi habitat.

Menurutnya, model tersebut diharapkan dapat direplikasi di taman nasional lain di Indonesia, menciptakan pembiayaan jangka panjang untuk konservasi, serta membantu Indonesia mencapai target iklim dan perlindungan biodiversitas.

“Konservasi membutuhkan kolaborasi akademik, penelitian berbasis sains, inovasi teknologi, serta monitoring lingkungan yang berkelanjutan. Kami berharap dapat membangun kolaborasi ini melibatkan mahasiswa dan akademisi Unila,” ujar Madina.

Ia juga memaparkan kondisi terkini Taman Nasional Way Kambas yang memiliki luas sekitar 125 ribu hektar dan berperan penting dalam konservasi global.

Namun demikian, kawasan tersebut saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari penyebaran spesies invasif yang mengancam keanekaragaman hayati akuatik, gangguan rantai pakan satwa liar, hingga penurunan fungsi ekologis ekosistem riparian.

Tekanan perambahan kawasan, perubahan tutupan lahan, dan keterbatasan kapasitas pemantauan berbasis data juga menjadi persoalan serius yang perlu ditangani secara kolaboratif.

Menurut Madina, kedekatan geografis Unila dengan kawasan Way Kambas, ditambah keberadaan program studi Kehutanan, Biologi, dan Sosiologi yang kompeten serta tradisi riset lingkungan yang kuat, menjadikan Unila sebagai mitra ideal dalam pengembangan program konservasi terpadu.

Program tersebut meliputi pemantauan biodiversitas, pengendalian spesies invasif, kajian sosial-ekologi, hingga pengembangan mekanisme pembiayaan konservasi berbasis hasil.

Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Beth Kaplin menyampaikan kolaborasi antara akademisi dan organisasi konservasi menjadi langkah penting dalam mendukung pencapaian target iklim nasional sekaligus perlindungan biodiversitas Indonesia.

“Kami percaya keterlibatan perguruan tinggi akan memperkuat riset ilmiah dan inovasi yang dibutuhkan dalam pengelolaan konservasi berkelanjutan,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Prof. Ayi Ahadiat menyampaikan apresiasi dan menyambut hangat inisiatif penjajakan kerja sama tersebut.

Ia menilai, pertemuan ini menjadi langkah awal yang sangat bernilai karena selaras dengan komitmen jangka panjang Unila dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan tata kelola lingkungan yang baik.

“Visi progresif yang dibawa Living Landscapes Indonesia sangat sejalan dengan implementasi tridharma Unila”, ujarnya.

Hal ini sesuai dengan tujuan riset inovatif dan program pengabdian masyarakat yang berorientasi pada keseimbangan ekologis dan sosial. Ia berharap penjajakan kerja sama ini dapat menjadi pembuka jalan bagi kemitraan strategis dan berkelanjutan.

Editor. : Maruzi

Seedbacklink affiliate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-4028159191961500, DIRECT, f08c47fec0942fa0