Muhammad Iman Ibrahim Terpilih Komisariat PMII UIN Raden Intan Lampung Periode 2026- 2027

55 views

Bandar Lampung | Newsanalis.com- Di tengah ikhtiar merawat tradisi intelektual dan pengabdian kepada umat, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Raden Intan Lampung menyelenggarakan Rapat Tahunan Komisariat (RTK) Tahun 2026 pada Kamis, (27/08/2026).

Rapat bertempat di Sekretariat PMII Ushuluddin, Komisariat Raden Intan Lampung. Forum ini bukan sekadar agenda organisatoris, melainkan ruang muhasabah jam’iyyah untuk meneguhkan kembali amanah perjuangan kader dalam bingkai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.

Bagi PMII, kepemimpinan bukanlah tentang pergantian nama atau jabatan, tetapi tentang kesinambungan khidmah, menyambung mata rantai perjuangan ulama, santri, dan kaum muda yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian serta kemanusiaan sebagai orientasi gerakan. Sebab, dalam tradisi Aswaja An-Nahdliyah, kepemimpinan dipahami sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan, bukan sekadar kehormatan yang diperebutkan.

Melalui mekanisme persidangan yang berlangsung dengan menjunjung tinggi musyawarah, forum secara resmi mendemisionerkan Sahabat Hanip Nur Alam sebagai Ketua Komisariat PMII Raden Intan Lampung periode sebelumnya. Penghormatan diberikan atas dedikasi dan ikhtiar yang telah ditunaikan selama satu masa khidmah dalam membangun organisasi, merawat kaderisasi, serta menjaga ruh pergerakan komisariat.

Sebagai kelanjutan estafet perjuangan, forum kemudian menetapkan Sahabat Muhammad Iman Ibrahim sebagai Ketua Komisariat PMII Raden Intan Lampung periode selanjut nya. Muhammad Iman kader yang diusung dari PMII Rayon Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

Pemilihan berlangsung melalui mekanisme aklamasi, sebuah keputusan yang lahir dari semangat syura (musyawarah) dan kesepakatan kolektif seluruh peserta forum. Dalam khazanah Ahlussunnah wal Jama’ah, musyawarah bukan sekadar prosedur, melainkan jalan untuk menghadirkan kemaslahatan bersama dan menjaga persaudaraan (ukhuwah jam’iyyah) di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

“Dalam pidato perdananya sebagai Muhammad Iman Ibrahim mengajak seluruh kader untuk kembali membaca PMII sebagai gerakan nilai, bukan sekadar organisasi mahasiswa,” ujar nya.

“PMII lahir dari gejolak di tengah sosial masyarakat. Jika kita telaah, para pendiri PMII mengajarkan kita bahwa kader PMII tidak boleh diam di tengah banyaknya problematika bangsa ini. Kita diajarkan bagaimana mahasiswa harus mampu melakukan satu transformasi sosial, politik, pendidikan, dan aspek lainnya dengan nilai-nilai dasar yang melandasi pemikiran serta gerakan dalam menjalani aktivitas hidup sebagai hamba,” Jelas nya .

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah harus menjadi fondasi dalam setiap gerak kader PMII. Prinsip tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (tegak lurus pada keadilan) bukan sekadar konsep keagamaan, melainkan etika pergerakan dalam membaca realitas bangsa dan meresponsnya dengan kebijaksanaan, keberanian, serta keberpihakan kepada kaum yang lemah.(*/Daffa)

Seedbacklink affiliate
Editor: Maruzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-4028159191961500, DIRECT, f08c47fec0942fa0