Setelah Nomor Urut Diundi Saatnya Gagasan dan Integritas Dibuktikan

28 views

Oleh: Prof. Dr. Yulianto, MS.
Guru Besar Administrasi Negara – Universitas Lampung

Bandar Lampung | Newsanalis.com- HARI ini, pengundian nomor urut calon Rektor Universitas Lampung telah dilaksanakan. Setiap calon kini memiliki nomor urut masing-masing. Namun, sesungguhnya nomor urut bukanlah ukuran kualitas kepemimpinan, bukan pula penentu keberhasilan seseorang dalam memimpin universitas. Nomor hanyalah identitas dalam proses pemilihan; yang jauh lebih penting adalah gagasan, integritas, rekam jejak, dan kesanggupan mewujudkan masa depan Unila yang lebih baik.

Pesan yang paling tepat disampaikan setelah pengundian nomor urut calon Rektor Universitas Lampung hari ini adalah pesan tentang kematangan akademik, persaingan gagasan, persatuan, dan tanggung jawab sejarah untuk membawa Unila menuju keunggulan. Pengundian nomor urut bukanlah puncak perjuangan, melainkan awal dari pembuktian keunggulan visi antar calon, rekam jejak integritas dan rekam jejak kinerja untuk meyakinkan para anggota Senat dan Civitas Akademi Unila dalam membawa masa depan universitas Lampung yang menjadi “Universitas Berkelas Dunia, Unggul, dan Berkelanjutan sesuai Renstra Unila 2025 -2029”

Beberapa pesan yang bisa disampaikan sebagai refleksi sekaligus harapan kepada seluruh calon Rektor Unila.

Pertama, bersainglah dalam gagasan, bukan dalam menjatuhkan sesama.

Tunjukkan siapa yang memiliki visi paling jelas, program paling terukur, strategi paling realistis, dan komitmen paling kuat terhadap kemajuan institusi. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam proses demokratis di lingkungan akademik. Namun, perbedaan itu hendaknya tidak merusak persaudaraan, merendahkan martabat, atau meninggalkan perpecahan di antara sivitas akademika.

Kedua, tempatkan Renstra Unila sebagai kompas kepemimpinan.

Siapa pun yang kelak terpilih, kepemimpinan tidak boleh dimulai dengan kepentingan pribadi atau kelompok, tetapi dengan komitmen melanjutkan hal-hal baik, memperbaiki kekurangan, dan mempercepat pencapaian sasaran strategis universitas. Setiap kebijakan, program, dan penggunaan anggaran harus memiliki hubungan yang jelas dengan target kinerja institusi.

Ketiga, wujudkan IKU Kemendiktisaintek dalam hasil nyata.

Keberhasilan Rektor bukan diukur dari banyaknya rapat, banyaknya kegiatan seremonial, atau indahnya laporan kinerja. Keberhasilan harus terlihat dari kualitas lulusan, produktivitas dosen, mutu penelitian, dampak pengabdian kepada masyarakat, kemitraan yang menghasilkan manfaat, serta tata kelola universitas yang profesional dan akuntabel.

Keempat, jadikan akreditasi Unggul sebagai perjuangan bersama.

Jangan biarkan cita-cita menjadikan seluruh program studi Unila Unggul berhenti sebagai slogan. Setiap program studi harus memperoleh pendampingan, dukungan sumber daya, dan sistem penjaminan mutu yang memadai. Program studi yang telah Unggul harus dijaga keberlanjutan mutunya, sedangkan program studi yang masih berproses harus dibantu menutup kesenjangan secara terencana.

Akreditasi Unggul bukan sekadar dokumen yang dipersiapkan menjelang asesmen, melainkan bukti bahwa mutu telah menjadi budaya kerja sehari-hari.

Kelima, bangun persatuan setelah proses pemilihan selesai.

Pemilihan Rektor adalah proses untuk menentukan pemimpin, bukan alasan untuk membelah keluarga besar Unila. Calon yang terpilih harus merangkul seluruh unsur sivitas akademika. Calon yang belum terpilih tetap memiliki kehormatan, pengalaman, dan kontribusi yang dapat diberikan bagi kemajuan universitas.

Unila terlalu besar untuk dipertaruhkan demi kepentingan sesaat. Masa depan mahasiswa, reputasi akademik, kepercayaan masyarakat, dan tanggung jawab terhadap pembangunan Lampung jauh lebih penting daripada kemenangan pribadi.

Akhirnya, kepada seluruh calon Rektor, sampaikanlah visi yang dapat diuji, program yang dapat diukur, dan janji yang dapat dipertanggungjawabkan. Berikan ruang kepada sivitas akademika untuk menilai setiap gagasan secara objektif berdasarkan rekam jejak, integritas, dan rencana kerja yang konkret, sebab, yang diperebutkan bukan sekadar kursi Rektor, melainkan amanah untuk menentukan arah masa depan Universitas Lampung.

Nomor urut akan tercatat dalam sejarah pemilihan. Namun, yang akan dikenang lebih lama adalah apa yang dilakukan seorang Rektor untuk membangun mutu, menjaga integritas, memperkuat persatuan, dan meninggalkan warisan kelembagaan bagi generasi berikutnya.

Siapa pun yang kelak mendapat amanah, semoga mampu menjadikan Renstra sebagai arah, IKU sebagai ukuran, integritas sebagai fondasi, budaya mutu sebagai kebiasaan, dan Unila Unggul sebagai cita-cita yang diperjuangkan bersama.

Berbeda nomor urut, berbeda gagasan, tetapi tetap satu tujuan: Universitas Lampung yang semakin bermutu, semakin unggul, dan semakin bermanfaat bagi masyarakat.

“Jangan hanya berlomba menjadi Rektor Unila. Berlombalah menunjukkan siapa yang paling siap mengabdi, paling konsisten menjaga integritas, dan paling mampu membangun sistem yang membawa Universitas Lampung menuju keunggulan. Sebab, jabatan akan berakhir, tetapi mutu institusi dan warisan kepemimpinan akan menentukan bagaimana sejarah mencatat pengabdian kita.”(*)

Humas Unila

Seedbacklink affiliate
Editor: Maruzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-4028159191961500, DIRECT, f08c47fec0942fa0